Ketika Asa Mencari Rasa

Sekuntum mawar merah kenangan yg tergantung,
mengering dan menjadi yg teronggok di tong sampah.
Kenangan itu hanya menjadi bayang-bayang di sudut pikiran.
Tidak tersorot lampu panggung, namun jelas keberadaannya.
Tidak bisa dibuang, tidak bisa dipanggil ulang.
Fungsinya ibarat cermin.
Untuk menata sang hati.
Untuk menata diri.
Supaya kelak bisa menghargai momen di masa yang akan datang.

Wahai engkau yang pernah terdamba, tetaplah berdoa dalam kedamaian Tuhan, walaupun terkadang kegelisahan dan keraguan adalah sebuah pemicu yg tidak pernah berhenti memancing respon semesta terhadap keinginan hati yang tak kasatmata namun terasa.  

Sadarlah kawan. Semua asa dan rasa bertautan membentuk komponen baru yang melebur di dalam diri.
Entah itu percaya diri versus rendah diri.
Entah itu Cinta versus Benci.
Entah itu simpatik versus sentimen.
Semua memberikan sensasi rasa yg berbeda.
Dari pertemuan dua kutub berbeda itu lah, terpisahkan antara yang baik dan buruk.

Semoga saja semua rasa itu bukan sesuatu yang kamu reka dan cipta seorang diri, tetapi karena adanya interaksi yg jelas dan produktif, dan kelak memberi senyum di kemudian hari ketika kau mengingatnya.    

[written on December 1st 2011]
PS: this is my old writings in indonesian, inspired by and dedicated to a friend. Cheers & just stay in faith. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s