Celoteh Batin Dini Hari

“Harus puas dengan tujuan macam apakah aku ini?”, tanya batinku pada Tuhan dini hari tadi.

Pertanyaan yg sudah berkutat di dalam diri beberapa tahun ini belakangan membuatku kehabisan energi sampai-sampai bisa beresiko mati kelelahan saja sekalian. Aku sedang lelah dalam 3 dinamika kata 5 tahun belakangan yaitu tujuan, kesempatan dan penolakan! Aku masih di sini, sibuk di ibukota bernama Jakarta, masih membuat diri terkikis oleh jadwal kerja yg lama-lama ternyata membuatku frustasi (berkelanjutan mungkin?). Dijawab atau tidak oleh Tuhan, ah aku sudah berhenti bertanya walau pun mereka bilang perilaku iman setiap orang itu selalu unik entah seperti apapun proses pencariannya, baik itu dari seorang berfigur paling religius atau pun yang terkesan paling murtad sekalipun dan mengaku tak beriman. Kenapa? Karena aku semakin mendapati bahwa kesadaran akan Tuhan adalah ilusi belaka. Ilusi pikiran dan kumpulan rancangan konsep pemikiran yang pernah ada, dibentuk dari penyatuan persepsi menghasilkan satu untaian ilmu kehidupan, dalam bentuk harapan positif atau pun ratapan sinisnya.

Bagai untaian rantai hidrokarbon dan berbagai konfigurasinya, berbagai asa dan rasa akan bertautan membentuk komponen baru yang melebur di dalam diri, dalam setiap tahapannya. Semua akan memberikan pengalaman “rasa” yang berbeda. Sama saja seperti distillation process, reflux menentukan kualitas produk akhir dan akan terpisahkan mana yg berguna dan mana yang tidak, begitu pula kondisi ketika proses berlangsung jelas berpengaruh. Bentuk istilah singkatnya, interaksi produktif antar manusia (plus dengan Tuhan).

Apakah ini hasil kepalaku yg terlalu banyak berputar sendiri? Mungkin. Tapi yang jelas.. Tuhan itu bukan objek atau sekedar wadah atas semua harapan dan keinginan tapi Tuhan adalah bentuk kesadaran itu sendiri, just pure awareness. Kesadaran murni yang tak terkondisi! Ada di dalam bagian diri masing-masing orang, sifatnya lekat… asalkan tidak dibuat bias oleh EGO. Bibit yg seringkali terlupakan (atau sengaja dilupakan?).

Pertanyaannya, bagaimana cara melalui (atau memiliki?) sebuah kesadaran yang tidak dikondisikan oleh pikiran, persepsi diri dan segala bentuk penyimpangan ego beserta segala bentuk arogansi-nya? Apakah itu semua demi merubah apa yg terlihat di depan menjadi suatu kesadaran radikal tak terkondisi?

Tentunya hal itu melebihi wujud yang ada dan segala jenis relasinya untuk menjadi yang terselamatkan secara aktual. Namun, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dijawab melalui wujud. Selama belum mengerti tahap ini, constant fear selalu ada dalam kamus harianmu (been there too anyway).

Bagaimana caranya mematahkan vibrasi egomu sendiri yang membuat fatamorgana persepsi untuk menjadikan pure awareness tersebut bangkit? Harus sampai tahap mana kamu merasa hidupmu sudah terjawab? Bentuk harapan bertemu dengan Tuhan dalam perjalanan macam apakah yang menjadikan Tuhan sebagai bentuk awareness?

Pure awareness didapat dari pencapaian atas pengalaman-pengalaman tertentu, yang terkadang tidak bisa dirasionalisasikan tapi dapat dimengerti bahwa certain feelings just stay forever. Penyertaan. Bukan tetek bengek macam mood swings. Bukan emotional baggage. Sifatnya undeniable tetapi intangible. Akan diiringi pula menjadi loving awareness yang senantiasa akan menyertai ketika kamu sudah benar-benar mengerti apa itu mengampuni dan hatimu tidak sedang menuduh dirimu sendiri, tetapi memberimu keberanian untuk mendekati “sang kesadaran” itu sendiri. Di saat itu lah kamu akan tahu kalau kamu sedang memberi makan batinmu sendiri untuk kemudian menjadikan sesuatu secara real, dengan penilaian bahwa itu menjadikan lebih baik. Transformasi segala bentuk ingin menjadi nyata! Bukannya mengikis atau menyiksa batinmu sendiri, tetapi menciptakan makna yg baik dalam batinmu dan saat mampu, saling memberi makan batin lain yang sama-sama memerlukannya.

Entah bagaimana respon kamu-kamu saat membaca tulisan macam ini, tapi setidaknya ini adalah isi dialog batinku beserta celotehannya selama ini. Aku tidak mencari validasi dari pihak mana pun karena aku hanya membiarkan pikiran dan jiwaku terbang bebas dalam batasan langitku sendiri, bersama seluruh isi hatiku saat ini yang sudah mencapai rasa syukur atas banyak hal. Karena aku mengerti bahwa setiap momen selalu mengajarimu sesuatu hanya jika kamu berhenti sejenak dan mendengarkan batinmu sendiri.

Cheers~ :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s