Repackaging Celotehan.

This time, I think I owe this post to one dearest friend I just met yesterday.

Ah betapa tidak, aku sangat merindukan teman baikku yg satu ini. Dia tidak selalu ada untukku karena sudah sibuk dengan keluarga kecilnya, bertemu pun hanya bisa 3-6 bulan sekali, tapi entah bagaimana dia selalu ingat, tiba-tiba menghubungi dan datang di saat yg tepat dengan senyumnya yg selalu menghibur dan menghangatkan hati di kala aku sangat memerlukannya. Setidaknya chemistry kami selalu begitu selama 20 tahun terakhir, tanpa emotional dependency tetapi complementing dengan saling menenangkan dan memaafkan.

Baru saja kemarin aku bertemu dengannya, ia membalas pelukan hangatku agak lama sambil bertanya, “Apa  kabarmu Pit?”

Aku menjawab singkat, “Baru selesai frustasi.” Aku tertawa melihat ekspresi bingungnya dan meneruskan, “I was not okay but so much lighter now, dear.”

Sapaan hangat memakai panggilan kecilku itu berlanjut ke pertanyaan selanjutnya tentang postingan akhir tahunku yg tampaknya membuat dia terheran bertanya-tanya. Berhubung aku lebih pandai berekspresi lewat tulisan panjang macam ini daripada lisan untuk saat ini, jadilah aku masih di sini, duduk di tempat ngopi bersama dua teman seperjuanganku di kota ini, Cynthia & Elizabeth. Kami sedang sibuk dengan laptop masing-masing mengerjakan tugas ber-deadline dari atasan. Telinga sedang mendengarkan lagu Fall Out Boy di headset dan tanganku pun masih sibuk mengerjakan analisa sistem Supply Chain (LAGI) sambil iseng membuat coretan. Coretan selingan yang selalu meringankan pikiran dan suasana hati di kala mumet karena sibuknya ga ketolongan, seolah-olah seperti lupa bernafas. Cure ketika siklus emosi sedang naik turun.

Back to track, postingan ini sifatnya cuma repackaging. Membungkus ulang. Bedanya, aku dalam keadaan cengar cengir ketika menulis ini, lain halnya dengan Desember 2015 lalu, cloudy. Singkat kata, something just don’t feel right last year. Serba ragu-ragu dan tidak keruan, banyak hal terjadi bertubi-tubi (tidak bisa diceritakan di sini secara detil tentunya). Sudah lama aku berada dalam state itu bahkan sampai saat berdoa pun begitu adanya. Tidak produktif dan kurang ekspresif. Aku menjadi tidak peka dan kurang peduli.

Ada satu dan banyak hal yg menjadi alasan mengapa aku tetap bertahan bertahun-tahun di Jakarta, salah satunya adalah karena aku menjadi lebih hidup dengan diberi kesibukan (walau tahun kemarin itu ternyata jadi frustasi~*), jadi lebih punya tujuan. Setidaknya kota ini sempat berhasil membuat kegelisahanku banyak berkurang dan menemukan jawaban atas kekhawatiranku. Hal lain-nya adalah faktor teman-teman dan satu gereja. Ya, gereja. Aku sering datang ke Gereja itu, mendengarkan seorang Pastor berambut panjang di salah satu Gereja Katolik daerah Jakarta Selatan, yg gaya bicaranya selalu seperti dosen filsafat teologi dan aku suka gaya bicaranya. Otakku langsung ON saat mendengarkan dia. Terpesona akan kontennya dan getting the heal that I need. Pemulihan. Vibes yg belum pernah aku dapatkan di tempat lain, dan aku membutuhkannya. Saat yg paling menyentuh batin-ku yaaa saat misa malam Natal 2015 kemarin bersama teman-temanku.

Aku datang mendengarkan preaching-nya dalam keadaan tawar menuju pahit berharap mendapatkan pencerahan, yang akhirnya dituangkan dalam postingan sebelumnya,si  Celoteh Batin Dini Hari. Sebagian besar yg tertuliskan disitu sebenarnya adalah pembahasan perikop Bible KJV 1 John 3 yang didapat dari banyak sharing yang disertai pembaharuan akan pemahamanku yg kurang tepat selama ini tentang cara berdoa, yaitu dengan awareness macam apa, tentang apa artinya Tuhan beserta kita, Tuhan ada di antara kita (di dalam kesadaran murni), dan cara pandang itu yg diharapkan lebih mendewasakan umat dalam menentukan sikap hati saat berdoa untuk menyambut hadirat Tuhan di dalam hati kita, merayakan ulang kelahiran Sang Juru Selamat. Tujuannya, yaa.. memaknai Natal, which is to reawaken and re-grow the light that seemed to dim in you.

Setidaknya, untuk merasa bebas kembali yang bukan sembarang bebas. There is always a difference between feeling free because you have smashed the fetters that kept you from running amok, and growing so much in self-control that you no longer need others to restrain you. Well.. The childish heart yearns for one while mature reasons seeks the other.

I enclosed this post presenting another favorite quote from Blaise Pascal in its full version :

The heart has its reasons, which reason does not know. We feel it in a thousand things. It is the heart which experiences God, and not the reason. This, then, is faith : God felt by the heart, not by the reason.

Mari memulai tahun ini dengan resolusi yang baru! Semoga dengan tantangan perspektif baru tahun ini, sesuatu dapat dimulai kembali setelah mati cukup lama dan menjadi semakin baik. Just something to begin again, with new hope and also new awareness. To be happier and more positive. To bless others around us.

Cheers with love peeps~<3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s