Ex abundancia cordis, os loquitor.

Seorang teman berkata padaku tadi malam via texting, “Lo sibuknya uda kaya urus Negara ya bolak balik melulu kaya bang toyib, kapan main nya hahaha!”

“Hahaha..bukan Negara heyyy, tapi demi menjaga kewarasan. Satu, kewarasan dompet…. Dua, kewarasan hati. Dan bukan kapan main-nya tapi kapan pulang-nya,” cetusku. Yah mungkin alien planet sebelah pun way more smarter than me untuk urusan menikmati hidup daripada jadi budak kantoran macam ini.

Boro-boro menikmati weekend dan malam natal – tahun baru kemarin, sampai pantatku lekat dengan sofa di rumah-hometown pun, whatsapp messenger terus berbunyi diikuti telepon kalau-kalau aku lupa membalas chat dan harus buka laptop lagi. Tahu-tahu saja jam di layar menunjukkan tahun 2015 sudah hampir berlalu saat masih “work from home”, aku bahkan lupa waktu. Rasanya aku ingin mengubah keadaan untuk men-transform semua tempat yg aku datangi itu lah yg menjadi kantorku, bukan sebaliknya.

Menapakan kaki di kamar sore hari tentunya terasa miracle sejak beberapa bulan belakangan ini, simple sunset miracle yang Miracle water SK II saja pokoknya kalah deh, dijamin. Maklum, sedang dalam periode ON project ber-deadline diikuti rasa eneg lihat gundukan crane dan excavator selama setahun penuh. Kalau mau pulang kampung saja harus hitung budget dulu, apa lagi main seenak perut.

Puncaknya sih, pernah tidak kamu merasa intoxicated oleh keadaan sekitar? Kalau jawabanmu iya, welcome to my paradise nowadays where KEPO people annoy me the most for nowSince KEPO stands for Known Every Particular Object, sometimes I don’t have to answer everything to everyone, right? As if you have to explain your life choices to everyone you met and they will bla-bla-bla you (not sharing thoughts loh ya but bla-bla-bla, if you get what i mean). Terlalu banyak distraksi, berakibat memang ada sesuatu yg hilang dalam diri. Even the things that we love to do can make us feel miserable sometimes, right?

Pertanyaan macam “Kenapa sih lo gak resign-resign? Udah kayak romusha aja” bahkan sudah tidak asing lagi terlontar di telingaku. Well, it’s not that I cannot do that darling. I don’t do things abruptly. Bentuk tanggung jawab KE diri sendiri dan PADA apa yg sedang ada di tanganmu pun ada banyak bentukannya dan tidak bersifat eventually (such a lazy word, don’t you think? that eventually word).

Untuk bagian departemen kehidupan yg namanya pekerjaan, terkadang mengomel itu membantu, yah …sedikit. Apalagi kalau ingatanmu diikuti dengan angka biaya hidup dan liability lainnya untuk ukuran budak kantoran yang hidup sendiri dan jarang pulang walaupun homesick disertai kangen elusan Ibu plus pelukan Ayah, mampunya utk saat ini yaaaaa do the best I can. Short message macam “Wah wah semangat ya” tentunya terasa lebih meaningful. Lagi pula siapa juga yang tidak pernah merasa tersesat even once in their life? Kalau ada yg bilang tidak pernah, berarti anda sudah terlalu lama dalam comfort zoneWell.. any kind of movement is life ya know.

Butuh kepercayaan dan mungkin (atau tepatnya) sedikit kepasrahan, walaupun tetap ada ekspektasi menggelayut dalam batin : semoga semua effort ini akan menghasilkan yang lebih baik setidaknya untuk beberapa bulan ke depan walaupun aku tahu, kalender tidak akan memutuskan kapan kamu akan mengubah hidupmu. You decide it yourself at the right time. Time again, as always.

Yang jelas, waktu adalah sesuatu yg berharga buatku. For those who know and understand things well enough, they don’t judge since they know how that feels too.

Dan di saat seperti ini lah, yang kamu butuhkan tentunya bukan pernyataan atas kelanjutan status so-called-pertemanan, tetapi sisi humble dari seseorang yang mengerti cara menghadapi diri sendiri dan terhadap satu sama lain ketika memiliki kondisi sulit-nya masing-masing. Untuk hal macam begini, sekalian ngelantur saja kalau begitu, ketik-ketik lalu klik Enter di layar chat.

Dan alih-alih soal sekedar cari pacar yg sebenarnya sudah bukan jamannya lagi untuk usia segini, dengan hidupku yang macam begini adanya sih yaaa cari pasangan hidup macam partner in crime itu lebih ideal, tentunya yang bisa diajak ngelantur apa pun hingga serious talk sampai dini hari dengan segelas wine!

What couldn’t be more perfect than that for such life in a nutshell like mine? I want to freeze the time once in a while so I can feel the air that I breathe to remember again that it’s not what I breathe, but simply how I breathe. Cheers with love sweety ~ ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s