Yang Kosong Berisi

morning dew

Aku seorang pendoa keliling. Awalnya aku hanya perempuan luntang-lantung yang sedang mencari tempat di antara ingar bingar kota tak berperasaan ini. Lalu aku bertemu seorang perempuan lain yang memelihara pohon harapan di atas tanah yang mengerkah oleh kering yang berkepanjangan. Pohonnya itu sekurus lidi dan penyakitan, dan tak satu pun orang yang percaya ia bakal berdiri terlalu lama, apalagi berbuah.

 

Namun entah dari mana, mungkin dari kepandaianku bicara dan meyakinkan orang itu, dia percaya aku bisa mendoakan buah-buah bagi pohon harapannya itu. Wajahnya yang polos membuatku terkesiap: dari mana dia mendapat yakin itu? Aku dan perempuan itu hanya sekilas mengenal. Tapi tanpa menunggu anggukan tanda sepakat dia sudah melipat tangannya dan memejamkan mata. Aku mengikuti dengan hati kosong melompong, pikiranku langsung ngacir entah ke mana, menolak mengikuti permainan. Doa macam apa yang terlontar tanpa iman? Dibolak-balik pun aku tak bisa melihat kemungkinan pohon itu bakal bertahan.

 

Kupandangi perempuan yang memejamkan mata dan melipat tangannya itu. Pohon harapannya seolah ikut menahan napas menunggu sederetan doa penuh kekuatan yang bakal dilahirkan oleh bibirku. Apa gunanya kata-kata berbaju doa jika tidak diisi dengan keyakinan? Iman? Mungkin saat itu Tuhan mencebik melihat pepesan kosongku.

 

Tapi perempuan itu menunggu dengan setia. Juga pohon harapannya. Karena itu kuberanikan membisikkan serangkaian kata-kata. Dan sebab aku telah lama kehilangan imanku (waktu itu zaman peperangan batin yang panjang antara nalarku yang rajin mengingatkan diriku mengenai kenyataan hidup yang pahit dan kenyataan diri yang busuk; imanku kalah telak dan sejak itu lengser entah ke mana) aku bersender di batang pohon harapan perempuan itu. Dan entah dari mana mulanya, kata-kata mengalir deras dari mulutku, dan bersama dengan itu, daun-daun baru pohon itu muncul perlahan-lahan…

 

Kau berdoa tanpa iman! tuding kata hatiku, dan apa gunanya itu?!

 

Aku terdiam, lalu mengangkat bahu. Dan hanya terkesiap memandang perempuan itu. Dia memiliki iman sebesar keberadaannya, dan iman itulah yang mengisi doaku yang kosong itu sepenuh-penuhnya, memberi kekuatan bagi pohon harapannya sendiri. Dan malam itu Tuhan, dengan caraNya yang kerap tak bisa kita mengerti, sekali lagi telah menyelamatkan dua manusia: aku, dan perempuan itu. Dan sejak itu aku tak pernah peduli lagi apakah doaku kosong atau berisi, aku terus menjadi pendoa keliling, sebab aku percaya, di mana ada iman, milik siapa pun itu, sekecil apa pun ukurannya, doaku akan terisi dan menjadi kenyataan.

 

PS : Attention! This is not my writing and i just copy-paste a writer’s post this late afternoon. Dan aku ini fans dari si penulis, her name is Rosi Simamora. Semoga bisa mencerahkan harimu seperti konten tulisannya yang selalu mencerahkan hariku yang sedang berawan kelabu, yg sedang kekurangan satu komponen hidup dan sedang mencari cahaya, namanya Harapan. Cheers~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s