Kutub.

Dingin dan berjarak. Memangnya kenapa kalau sisi emosional saya sedang hibernasi dan tidak ingin diusik (lebih tepatnya bahkan tidak terusik mau ada apa juga). Maaf, saya memang memilih mau nurut kepada siapa. 😛

Semakin bertambah dewasa yang diikuti tanggung jawab lainnya, hal yang saya dapati paling mengganggu sejak tahun kemarin adalah ketika orang yang tidak begitu mengenalmu atau yang merasa-rasa kenal karena hanya melihat sepintas “permukaan karakter anda” sejenak atau bahkan selama bertahun-tahun tiba-tiba datang dengan kritik pedas lalu sibuk mengaturmu tapi akhirnya marah ketika tidak dituruti.

Kedalaman pemikiran saya saja kadang Ibu kandung sendiri mungkin kurang ngerti, anda sendiri begimana toh ya main simpul saja. Sibuk hidup dalam paradoksnya sendiri sampai-sampai lupa untuk mengerti bagaimana kapasitas orang sekitar ketika sedang terjepit kesulitan kanan kiri atas bawah serong sana sini itu tindak-tanduk penyelesaiannya bisa berbeda-beda. Memang sih, paradoks itu seringkali membuat semua terasa lebih hidup, tapi begitu merasa terancam sedikit, yang ini  kok langsung membabi-buta. I fully afford my own life for years, provide my parents some extra too, never bug you even once! Lalu kenapa pula kau yang lebih sibuk? Orang-orang ini masalah hidupnya tidak ada kali ya, sempat-sempatnya terlalu ngurusin orang.

Ketika tangan anda sedang sibuk bekerja, toh untuk apa terlalu peduli apa kata orang, kamu yang menjalani, bukan mereka. Mau itu teman sendiri, kenalan atau orang di jalanan, makin banyak saja orang macam ini. Sekeras itu kah kota ini, sebegitunya kah kota ini memecut orang jadi makin tidak peka. Yah, mungkin.

Dalam situasi panas tertentu (tertentu lho ya!catet!), ketidakpedulian itu bisa jadi kunci bertahan hidup. Entah itu konflik sehat yang produktif atau tidak, kalau kebablasan akhirnya terlampau apatis alias masa bodoh kepada dunia. Jadi kesimpulannya.. semua itu relatif. Singkat kata, you are just not where-i-go-to-kind-of-people when i seek advice.

Lagipula… Orang-orang ini kerjanya jengkel melulu dan enggak selow. Ambekan. Mungkin memang kurang minum Aqua.

Permisi, mau ke warung dulu cari Aqua (daripada terbawa jadi ambekan).

//flee

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s