Ingatan Setangkai

3422097850_970c50e534

“To bear the fruits against all odds, my dear Evy.”

Begitulah makna kalimat itu terngiang di kepalaku ketika seorang sahabat datang saat dibutuhkan, tanpa diminta. Apalah artinya itu dikala emotional fatigue bertandang kembali di tengah kejengahan ibukota ini dan siapa sangka si bayangan itu kembali hanya untuk singgah tersenyum. Tak diundang. Tak dinyana.

Benarlah adanya kalau orang yang memegang kunci kesembuhan terdalam itu … ya hanya si pembuat, dalam keteduhan matanya. Tak lain dan tak bukan, si rosaceae yang tersimpan rapi di lubuk hati.

Telah lama ter-peram tanpa sadar, bukan di-peram dengan sengaja. Ia melenggang ringan sebesar keberadaannya di tengah canda tawa pesta pernikahan seorang sahabat Februari lalu. Sudah sewindu lamanya saat setangkai itu singgah kembali dalam kelegaan tiada tara tak terperikan waktu silam.

Hidup adalah bentuk cinta yang paling liar, dalam segala bentuk asa-nya dari berbagai macam penjuru. Sebesar dan sekecil apa pun itu.

Ia meresap ke dalam akar dan melunakkan duri ketika bersinggungan dalam senyum si damai untuk kembali ke asal muasalnya, batin.

Bisa jadi kata-kata terpampang di jalanan Bandung itu boleh juga dikutip seperti adanya.

Bukan demi reset, tapi hanya check up di tengah ketidaksengajaan semesta kalau semua memang baik adanya sepahit apa pun itu rasanya dulu. Walaupun sayangnya malah terbawa ke kepingan selanjutnya. Basah hati karma pun terbakar (halah).

Mungkin ini yg namanya berdamai dengan wujud “kau yang panas di keningkau yang dingin untuk dikenang”…Tak lebih dan tak kurang. Dinyatakan kembali atau tidak, sebegitunyalah adanya menjadi tuntas dan penuh kembali.

Ah… Iya, persis yang itu Mr. Rose. Terima kasih ya, sahutku tenang dalam hati.

My precious key is back, at least. 🙂

Not even an arrogant and immature lockpicker can re-create it but myself, getting healed by the hand of its previous borrower. Just to stay as it is, right and just in my palm.

Fully intact and not yet to be touched more further by anyone.

Just getting warmer in my late twenties, winter in my heart finally has passed.

Aku menyambut kembali kedatangan musim di seantero keinginan beserta keengganan yang mungkin dan tidak mungkin selesai melewati berbagai perkara.

Karena mampu menyayangi dan disayangi dikala langitmu runtuh itu menentramkan, menyenangkan hati. Entah apa pun definisi runtuhnya itu, tak butuh banyak premature statement yang sengaja dikeluarkan secara personal hanya untuk di-twist di depan khalayak pendengar picisan. Bukan kata-kata pre-agreement karena urusan cinta itu bukan seperti negosiasi bisnis.

Disanalah kedewasaan seseorang itu diuji bersama cinta kasihnya.

Ia diuji untuk bisa menumbuhkembangkan.

Sebuah anugerah yang tidak hilang timbul tenggelam seperti ombak yang pupus harapannya tapi tulus manis dan sederhana. Itu saja… cukup.

Terkenang di bilik jantung, selalu.

Rose-by-aqsahu-Flickr

Priceless as it is. In aeternum.

[OK, ternyata masih banyak yg harus dipelajari. Postingan random isi hati dalam rangka sok puitis dengan penutup one shot banyak kiasan & tanpa fix red thread, selesai sampai di sini ya darls.. :p]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s