vires acquirit eundo

Tak terasa ini sudah menjelang tahun ke-enam. Aku sudah bukan anak kemarin sore lagi yang baru masuk dunia, tetapi sebagai pemain lama. I’ve been ouuuut of the book and being tooooo attached at the real street for long, haven’t i? Ain’t a college idealist anymore.¬†Dan realitaku tahun ini ibarat sedang memandang anak-anak angsa yang baru belajar berenang di tepian danau. Berani terbang pun belum. Ada yang masih senang main air atau pun memang sibuk mangkel sambil ngomel.

Bagaimana tidak? Ketika mengeluarkan pertanyaan sistematis standard seperti “Oke…Jadi kamu sudah tau apa saja tentang Rekonsiliasi System-Subsystem?” dilanjutkan dengan Konsolidasi dll, toh aku hanya dibalas dengan tatapan apaan-itu-kak diikuti muka seram begitu mendengar nama proyek Jackpot ini karena rumor sekantor. LOL. That face!

white-swan

Aku hanya terkekeh sambil menenangkan muka-muka angsa polosan macam anak kuliah penuh teori dan hipotesa ini. Persepsi situasi memang harus diperkenalkan dengan hati-hati agar kondusif saat berjalan. Chemistry dalam bekerja itu ada seni-nya, betul? Dan kalau tidak ada rindu, untuk apa kerja? Sama seperti hubungan.

Well..Setidaknya…Mereka menerima¬†provisi plus transfer knowledge dariku dengan otak yang lapar. Itu sudah jadi berita baik buatku, ditambah aku harus mendampingi bagian jam terbang hingga awal 2017 plus extra tanggung jawab sejak tahun kemarin.

Apa yg bisa diuji dari ini semua?¬†Hasil membangun pola kerjaku! Dites habis-habisan seperti dihajar sejak tahun kemarin di tempat antah berantah, jauh dari pusat kota yg menyediakanku rumah kedua selain Bandung. Jadi…Pressure-nya berasa beneran (setidaknya seperti inilah realita karirku).¬†Saat ini aku sudah melewati masa shock dan beneran panik akibat metode beringas tahun kemarin dari orang lain yang sangat tidak tepat, diikuti uji EQ maksimal di lapangan. Hello new resilience!

Dan dari semua monster ego yg selama ini aku latih di dalam, duh! Tetap saja masih tersisa satu yang sulit jinak seumur hidup, makin dipecut makin takabur dan harus dibantu oleh sosok yang bisa calm-kind-smarty-dominant di sampingku, bukan yang ambekan melulu seumur hidupnya. (-_______-)

Monster apa itu? Monster pola yang sedang lost in sequence, ditambah lagi kalau sedang “jablai” jadinya makin kacau beliaw, bisa begitu. HAHAHA —–> ketawa miris loh ini, apalagi kalau sedang¬†panicked over prolonged situational condition. Jadinya monster jablai beneran!

Lalu untuk hal lain lagi…Apa yg bisa dipetik ulang ketika iman sedang dijatuhkan situasi? Ketika sekedar berharap bukan pilihan strategi yang baik? Ada! Apa tuh? Kalau perjalanan dengan Tuhan itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan agama dan segala macam ritual.¬†Yep. Itu perjalanan yang sepenuhnya spiritual. Dan nggak ada yang bisa benar-benar memahaminya kecuali kau dan Dia saja. Catat ya…sifatnya personal dan hasilnya ya… naik level. Won’t go details on this part. :p

Selain itu… tak lupa juga dengan pembimbing baik hati yang selalu sabar dengan kepolosanku terdahulu. Aku tersenyum iseng tiap pagi tatkala berjumpa si Om rewel baik hati yang dulu menyambutku ketika pertama kali masuk gedung ini… Ia cuma bilang, “Ingat ya Non, you essentially work for yourself. Oh, dan untuk orang-orang tersayang juga.”

Well..Sekarang aku jadi tambah paham kenapa ia tak pernah sekali pun bertanya “Why do you want to work for this company?” saat briefing karyawan terdahulu.

Tak lama setelah obrolan dengan Om ini, biasanya aku selalu men-dial¬†1 nomor utk di-call. Kami mengobrol panjang dan ketika waktu sudah habis, ia selalu menutup dialog sambil berkata, “Lagi sama-sama sulit.. Kamu yang sabar ya ngejalanin di sana.”

Dan aku hanya mengangguk sambil menjawab, “Iya Pa, yang sabar juga ya…”

Aku yang saat ini seperti angsa sedang merebahkan diri di tepian danau. Tak ingin terbang atau pun bermain air. Hanya sedang vakum sembari mempersiapkan encouragement¬†ini itu¬†untuk angsa-angsa lain yang aku haruskan ke tengah danau lalu belajar terbang sendiri karena aku tahu mereka itu mampu, tapi belum gigih. Artinya…Jeburin dulu saja! Jadi apa ya lihat nanti.

And at one point of my life, I figured out what I need is one brave man¬†who understand how to slow me down and stay. Not one who bravely initiate and snap me then just disappear.¬†I’d love someone who pull me away from my computer once in a while and show me that it‚Äôs okay for me to stop and just walk slower with him. Together.

Because Love should slow you down and lead you into growing mutual weirdness. Never the opposite.

shw_3

{mengetik random selesai, gausa protes karena sequence yg ngga rapih ya kawan-kawan lol}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s