Layak?

The possibility of making our dreams comes true, that makes life interesting even more.

This has been one thing or two that i will never stop to show people around me. Because pity are those who keep thinking they are open-minded enough yet they were not, at all. Naive!

And ahhhhhhhhh akhirnya punya waktu juga untuk membuka laman ini.

Periode yg menguras energy sudah berkurang dan setelah sekian lama penantian, aku menemukan adanya secercah harapan yg bisa aku genggam. Selain urusan waktu, perasaan, keluarga dan financial awareness (ya, FINANCIAL AWARENESS AND UTILITY kawan-kawan. Psikologis keuangan itu sangat penting walaupun bukan yg paling penting, toh? Catat!), Tuhan akhirnya membukakan sendiri pintuNya bahkan tanpa aku minta! Sebelumnya sudah banyak mengetuk, asli gak diwarooooo tapi kali ini…dua pintu sekaligus. Yang satu sudah nyata,  tapi yang satu masih menimbang kemampuan. Maklum, aku sering digerogoti keraguan karena banyak gagal sebelumnya. Matik.

Tapi lain dengan perasaan ini. Kerinduan ini. Rasa cinta ini. Keyakinan ini. Aku tahu benar kemana ini semua akan mengarah. Dan lucunya … selalu ada-ada saja cara Tuhan menggiringku ke sana bahkan ketika aku enggan. Tapi, kenapa tidak? :p

Aku tak perlu menulis detil alasan aku menulis disini, toh blog itu adalah wadah ekspresi bebas..karena aku ini banyak diberkati untuk banyak memberkati juga, betul?

Di luar urusan segala tetek bengek soal hubungan yang sudah lama sekali tak banyak diurusi, aku menekankan kembali lewat post ini.

Setiap orang itu layak dicintai TEPAT seperti yang mereka butuhkan masing-masing, dipahami oleh yang sama-sama sedang mengalami dan orang-orang di luar itu, bukan seperti apa yang orang lain pikirkan atau di-dikte-kan apalagi pakai gaya teori segala mentang-mentang lulusan luar negeri. Dengan segala keterbatasan yg dimiliki, kita ini hanya memampukan diri sesuai kapasitas yg sedang kita punya untuk menjadi lebih besar.

Adalah tanggung jawab kita untuk bisa selalu berkembang dengan apapun itu yg ada di tangan kita, untuk mencintai dunia. Bukannya karena tuntutan orang lain zzzz. Dan aku sangat menentang keras segala jenis orang-orang yang apatis pada perkembangan karena mengurung diri.

Ups and downs? Jangan ditanya. Siklus yang sudah dilalui pun tak terhitung. Sudah baja. Tapi dari itu semua kita ini mengerti kalau kita butuh didampingi orang-orang yang memiliki kapasitas yg sama ketika sedang banyak ditantang situasi. Tak hanya didampingi tapi juga dicintai dengan baik oleh orang-orang yang mengerti apa yg sedang kita alami dalam realita kita, bukan mencampuradukkan dengan realita orang lain.

Aku jadi memahami apa perkataan sesepuh terdahulu. Laki-laki yang masih sibuk menjadikan perempuan sebagai bemper ego masa lalu itu sangat belum layak  meminta atau pun menerima cinta dari perempuan mana pun.

Mengapa? Karena jenis-jenis ini masih mencari bentuk kedewasaan dgn membenturkan hubungan dari satu perempuan ke perempuan lainnya, mengharapkan loncatan demi loncatan mental. Buta melihat karakter dalam realita semu. Sesumbar mulut manis yg tidak terlepas dari umur mereka, daun tua, daun terlalu tua atau pun daun muda alias para dedek berondong yang lucu-lucu dengan ego yg terluka hingga mereka yang memasang jebakan hubungan ringan kesana kemari.

Karena aku ini selalu tidak percaya dengan omongan semata atau pun sekedar paradigm menemukan the one yang serta merta.Mungkin saja ini efek terlalu banyak mendengar perempuan lain curhat.

Mau dikatakan punya trust issue pada laki-laki juga silahkan, faktanya laki-laki jaman sekarang itu banyak yg belum bisa dipercaya. Mereka butuh inspirasi dari yg katanya innate character tapi faktanya ia sendiri pun jelas-jelas tak punya … memang ya laki jaman sekarang itu garink dan kurang melek jaman, sementara perempuan itu butuh sosok laki-laki yang jauh lebih tangguh dan punya karakter pelindung yg baik, bukan sweet words saja macam “I feel what i feel for you” atau pun “how would you feel if i never tell you these things”.. termasuk rentetan email mantan. Ironis ya pria jaman sekarang?

Dan dengan hormat dan kasih sayang, semua sudah selayaknya dikembalikan dengan manis kepada yg empunya, dengan sempurna. As much as i’ve expected from his bluntness since the beginning i saw this one, he has been a very lovely cycle breaker i’ve been waiting in my life, at the least.ūüėė

Di mataku, tidak ada yg benar atau pun salah dalam semua jenis hubungan, lantas akhirnya aku jadi tergelak sangat geli melihat hasil pergulatan egoku sendiri di masa lalu. Dan semakin tidak tertarik lah aku ini pada jenis hubungan jaman sekarang. Sisi jiwa feminisku sangat berperan besar kali ini.

Silahkan direfleksikan sementara aku masih harus mengolah sumber energyku sejak kecil, yaitu Art, Engineering dan Business Intelligence. Mau bagaimanapun aku ini masih saja tetap berbinar kalau sedang memadukan 3 miracle ini, apalagi kalau sudah bertemu sesama yang brainal juga.

(dancing mood)

Jadi.. Sudah layak kah kamu ini menerima berkat yg lebih besar dengan kapasitas yg seharusnya? I leave this question to you darlings. I’m gonna be off for a few months to another revelation of my dreams coming true in reality.

>:D >:D >:D >:D >:D >:D >:D

Aku rasa sepi paling memekakkan itu seperti ini: kau tiba-tiba tersadar belum menemukan satu pun orang tempat kau bisa mencurahkan dirimu sepenuh-penuhnya tanpa rasa takut atau waswas, dan dia menyahutimu seperti yang benar-benar kaubutuhkan tanpa kau perlu mengatakannya sama sekali.

Dan definisi mengerikan adalah orang-orang yang bosan dengan hidupnya. Mereka ini bisa melenceng keluar tanpa memikirkan dampaknya lalu menyerempet orang lain demi kepuasan sesaat. Mereka bisa membuat kamu merasa diinginkan bahkan dicintai, padahal tidak. Mereka hanya bosan dan kamu hanya pengalih perhatian yang cocok dengan kebutuhannya saat itu. Tidak pernah benar-benar nyata, bahkan untuk hidupnya sendiri.

No Thing

Body is just a shelter system for the soul. Functional matter, dears.

A system is only trying to help and simplify the mundane daily life but never made to make life easier or make sense.

And some people only have to bring any glimpse of your past when they’re threatened by your present. Then… why would you bother on how people stabbing at your back?

Driven by quiet rant of rich thoughts, all of us make a compromise, between norms and our true self.

As humanity needs to be understood by looking within and befriending ourselves, which question would you like to pick for you now?

Which one is better and which one is less? Which one is good and which one is bad?

Nobody can be themselves completely. Nobody likes themselves completely. Nobody loves other persons completely. Nobody listens to their intuitions completely. Nobody is meant for each other completely. Nobody gives compliments completely. Nobody earns their dreams completely. Nobody listens to other people’s opinions completely. Nobody loves other people unconditionally completely. Nobody feels sorry for their mistakes completely. Nobody means their promises completely. Nobody feels grateful for their existence completely.

Mixed feelings is something you can’t really explain but you know exactly how it feels.

You love your idealism more than you love someone, my dear.

You love your moments of solitude more than you may love something or someone.

It’s understanding but at the same time also demanding too much.

It’s accepting but at the same time never feel good enough.

It’s listening but at the same time talking someone’s back.

And it’s no thing because there are so many things in nothing. More important than any important things you have learned all of your life. Nothing is the most beautiful thing in the world because in nothing the possibility is endless. Everything is nothing and nothing is everything. From zero you can become one hundred and be back to zero again. But how you construct everything back to nothing needs more courage and brain and planning.

And when your happiness is always urgent…Can you stop being so basic and just be nothing before anything else growing in you?

Because when everyone becomes nothing, that’s when everything will become beautiful again, out of any arrogance form in the world.

(Serba serbi air of thoughts akhir tahun 2016 hasil celingukan dan membaca untaian emosi asing yg lincah berseliweran pun selesai sudah)

PS : Thank you miss Bohang for all beautiful pictures and words, it is all inspiring for this post.

vires acquirit eundo

Tak terasa ini sudah menjelang tahun ke-enam. Aku sudah bukan anak kemarin sore lagi yang baru masuk dunia, tetapi sebagai pemain lama. I’ve been ouuuut of the book and being tooooo attached at the real street for long, haven’t i? Ain’t a college idealist anymore.¬†Dan realitaku tahun ini ibarat sedang memandang anak-anak angsa yang baru belajar berenang di tepian danau. Berani terbang pun belum. Ada yang masih senang main air atau pun memang sibuk mangkel sambil ngomel.

Bagaimana tidak? Ketika mengeluarkan pertanyaan sistematis standard seperti “Oke…Jadi kamu sudah tau apa saja tentang Rekonsiliasi System-Subsystem?” dilanjutkan dengan Konsolidasi dll, toh aku hanya dibalas dengan tatapan apaan-itu-kak diikuti muka seram begitu mendengar nama proyek Jackpot ini karena rumor sekantor. LOL. That face!

white-swan

Aku hanya terkekeh sambil menenangkan muka-muka angsa polosan macam anak kuliah penuh teori dan hipotesa ini. Persepsi situasi memang harus diperkenalkan dengan hati-hati agar kondusif saat berjalan. Chemistry dalam bekerja itu ada seni-nya, betul? Dan kalau tidak ada rindu, untuk apa kerja? Sama seperti hubungan.

Well..Setidaknya…Mereka menerima¬†provisi plus transfer knowledge dariku dengan otak yang lapar. Itu sudah jadi berita baik buatku, ditambah aku harus mendampingi bagian jam terbang hingga awal 2017 plus extra tanggung jawab sejak tahun kemarin.

Apa yg bisa diuji dari ini semua?¬†Hasil membangun pola kerjaku! Dites habis-habisan seperti dihajar sejak tahun kemarin di tempat antah berantah, jauh dari pusat kota yg menyediakanku rumah kedua selain Bandung. Jadi…Pressure-nya berasa beneran (setidaknya seperti inilah realita karirku).¬†Saat ini aku sudah melewati masa shock dan beneran panik akibat metode beringas tahun kemarin dari orang lain yang sangat tidak tepat, diikuti uji EQ maksimal di lapangan. Hello new resilience!

Dan dari semua monster ego yg selama ini aku latih di dalam, duh! Tetap saja masih tersisa satu yang sulit jinak seumur hidup, makin dipecut makin takabur dan harus dibantu oleh sosok yang bisa calm-kind-smarty-dominant di sampingku, bukan yang ambekan melulu seumur hidupnya. (-_______-)

Monster apa itu? Monster pola yang sedang lost in sequence, ditambah lagi kalau sedang “jablai” jadinya makin kacau beliaw, bisa begitu. HAHAHA —–> ketawa miris loh ini, apalagi kalau sedang¬†panicked over prolonged situational condition. Jadinya monster jablai beneran!

Lalu untuk hal lain lagi…Apa yg bisa dipetik ulang ketika iman sedang dijatuhkan situasi? Ketika sekedar berharap bukan pilihan strategi yang baik? Ada! Apa tuh? Kalau perjalanan dengan Tuhan itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan agama dan segala macam ritual.¬†Yep. Itu perjalanan yang sepenuhnya spiritual. Dan nggak ada yang bisa benar-benar memahaminya kecuali kau dan Dia saja. Catat ya…sifatnya personal dan hasilnya ya… naik level. Won’t go details on this part. :p

Selain itu… tak lupa juga dengan pembimbing baik hati yang selalu sabar dengan kepolosanku terdahulu. Aku tersenyum iseng tiap pagi tatkala berjumpa si Om rewel baik hati yang dulu menyambutku ketika pertama kali masuk gedung ini… Ia cuma bilang, “Ingat ya Non, you essentially work for yourself. Oh, dan untuk orang-orang tersayang juga.”

Well..Sekarang aku jadi tambah paham kenapa ia tak pernah sekali pun bertanya “Why do you want to work for this company?” saat briefing karyawan terdahulu.

Tak lama setelah obrolan dengan Om ini, biasanya aku selalu men-dial¬†1 nomor utk di-call. Kami mengobrol panjang dan ketika waktu sudah habis, ia selalu menutup dialog sambil berkata, “Lagi sama-sama sulit.. Kamu yang sabar ya ngejalanin di sana.”

Dan aku hanya mengangguk sambil menjawab, “Iya Pa, yang sabar juga ya…”

Aku yang saat ini seperti angsa sedang merebahkan diri di tepian danau. Tak ingin terbang atau pun bermain air. Hanya sedang vakum sembari mempersiapkan encouragement¬†ini itu¬†untuk angsa-angsa lain yang aku haruskan ke tengah danau lalu belajar terbang sendiri karena aku tahu mereka itu mampu, tapi belum gigih. Artinya…Jeburin dulu saja! Jadi apa ya lihat nanti.

And at one point of my life, I figured out what I need is one brave man¬†who understand how to slow me down and stay. Not one who bravely initiate and snap me then just disappear.¬†I’d love someone who pull me away from my computer once in a while and show me that it‚Äôs okay for me to stop and just walk slower with him. Together.

Because Love should slow you down and lead you into growing mutual weirdness. Never the opposite.

shw_3

{mengetik random selesai, gausa protes karena sequence yg ngga rapih ya kawan-kawan lol}

70.

A Change

A change maybe just around the corner!

After hard months, perhaps some changes are good.

And I’m hitting number 70 in my blog post! Gak istimewa sih, tau..¬†(* – -)¬†Just a very tiny form of excitement¬†for lucky number 7 at the seventh month of the year.

I started putting out words by words in this blog since 2012 (my second year after moving out from my home, Bandung, to this Ibukota sumpek nan pengap, Jakarta). Wohoo. Five and a half year following my heart (or should i say : following my bitterness-after-effect in college years until now? Starting over and over and over, shoo shoo old heartbreak, udah basiiiii busukkkkk, tahun berapa iniiiiii, kaca mana kaca).

pic 1

I must say that I love my life better in this city (kecuali urusan macet dan overwork condition). Dan pada titik tertentu, aku mencinta lebih baik dengan jarak dari berbagai segi. Emotional closeness obstacle i must say.¬†(¬īc_,ÔĹÄlll)

I should thank dozens of people for all inspirations in here, there and everywhere. Four blog post are still remaining in draft for months and another three in trash.

pic 5

Even though current obstacles¬†still push me down to be half-hearted person as ever but the process is still going on, i think that’s OK. Valuing process in order to progress. Why not? Just another kind of small trial to enlarge mental capacity.

pic 2pic 6

After making a lot of dots in my head based on people stories and receiving enough feedback in live version, I must say that I am currently happy & satisfied enough to do this mix and match method for the next 6 months of mind framing. I will be owing to create a longer version just for two dearest darlings, Karlin & Dwiasfitri. Connecting the red threads, perhaps.

Another deep thanks to most¬†expressive daily life companions : Adit, Hari, Malik, Purnama, Hermawan, Lubis, Cahyadi, Rosy, Kevin, The Wolf Blogger, Mr. Taxi Drivers who never cease to entertain me when i got stuck in traffic and many many many other inspiring people including 22 other countries flags that keep popping up in my wordpress app. ūüôā

I shouldn’t describe what kind of country i am living or even to compare it with others, should I?

pic 3

Oh one more..Thank you to Beruang Australia too. You are such a good senior analyst and also “a good career therapist” across the continent.

Well.. I will still adore all of you no matter what even though all of your gold comes along with the rust. So that maybe, we just find heaven in a hell of a place when we got lost.

Dan yang tak akan pernah lupa….¬†Romo Gondrong Gereja Santa untuk kuliah filsafat dalam setiap kotbahnya yang ajaib.

_____m(‚óē‚ÄŅ‚ÄŅ‚óēÔĹ°)m_____ (posisi muka nangkring saat ikut ibadah beberapa minggu¬†sekali–> ngaku)

Next, since this is just my random writing to express things.. I’m showing my 2016-to-do-list, just one plan after another in here (been following one suggestion over here).

  1. Taking my parents to Bali annually, done.
  2. Finishing career woman stressful period, done. (senggol bacok period uda off, aku sudah kembali jadi anjing shiba/pom-pom… mungkin)
  3. Re-calculating my fucked-up-almost-broke-due-to-high-stress financial statement, on progress.
  4. Targeting financial freedom at the age of 30, on progress.
  5. Completing Microsoft Certification, soon. (ujian ujian ujian ujian ujian ujian….)
  6. Making Indomie instant noodle for room mate at 10.30 PM, done. (nom nom nom nom)
  7. Moving in to new rent place, soon. (Oh God, i need to breathe fresher air when i sleep!)
  8. Finishing two personal projects, soon. (Biar smooth itu emang butuh proses ya, panjang pula)
  9. Making short video for my-childhood-ngebet-friend, soon. (=,=)
  10. Making dreamy-plastic-culture project into reality, soon, perhaps. (Hello again Polymer! ¬†Why do i need so much money for you beforehand hmm…<3)
  11. Going to my immunologist for my last check up after one year supervision, soon. (Hello life balance, hello lagi untuk bisa menabung, yeay)

last but not the least is… the most difficult thing in my life ..

12. Tidying up piles of bookssssss in my room, soon.

Due to some personal projects, I will be off for quite a long time and will be just posting some favorite pictures. And for all the things i’m loyal to is just being loyal to growth along with dearest growing peeps. Cheers to you beautiful souls!

pic 4
Dusk is just an illusion, because the sun is either above the horizon or below it.

 

 

Kutub.

Dingin dan berjarak. Memangnya kenapa kalau sisi emosional saya sedang hibernasi dan tidak ingin diusik (lebih tepatnya bahkan tidak terusik mau ada apa juga).¬†Maaf, saya memang memilih mau nurut kepada siapa. ūüėõ

Semakin bertambah dewasa yang diikuti tanggung jawab lainnya, hal yang saya dapati paling mengganggu sejak tahun kemarin adalah ketika orang yang tidak begitu mengenalmu atau yang merasa-rasa kenal karena hanya melihat sepintas “permukaan karakter anda” sejenak atau bahkan selama bertahun-tahun tiba-tiba datang dengan kritik pedas lalu sibuk mengaturmu tapi akhirnya marah ketika tidak dituruti.

Kedalaman pemikiran saya saja kadang Ibu kandung sendiri mungkin kurang ngerti, anda sendiri begimana toh ya main simpul saja. Sibuk hidup dalam paradoksnya sendiri sampai-sampai lupa untuk mengerti bagaimana kapasitas orang sekitar ketika sedang terjepit kesulitan kanan kiri atas bawah serong sana sini itu tindak-tanduk penyelesaiannya bisa berbeda-beda. Memang sih, paradoks itu seringkali membuat semua terasa lebih hidup, tapi begitu merasa terancam sedikit, yang ini  kok langsung membabi-buta. I fully afford my own life for years, provide my parents some extra too, never bug you even once! Lalu kenapa pula kau yang lebih sibuk? Orang-orang ini masalah hidupnya tidak ada kali ya, sempat-sempatnya terlalu ngurusin orang.

Ketika tangan anda sedang sibuk bekerja, toh untuk apa terlalu peduli apa kata orang, kamu yang menjalani, bukan mereka. Mau itu teman sendiri, kenalan atau orang di jalanan, makin banyak saja orang macam ini. Sekeras itu kah kota ini, sebegitunya kah kota ini memecut orang jadi makin tidak peka. Yah, mungkin.

Dalam situasi panas tertentu (tertentu lho ya!catet!), ketidakpedulian itu bisa jadi kunci bertahan hidup. Entah itu konflik sehat yang produktif atau tidak, kalau kebablasan akhirnya terlampau apatis alias masa bodoh kepada dunia. Jadi kesimpulannya.. semua itu relatif. Singkat kata, you are just not where-i-go-to-kind-of-people when i seek advice.

Lagipula… Orang-orang ini kerjanya jengkel melulu dan enggak selow. Ambekan. Mungkin memang kurang minum Aqua.

Permisi, mau ke warung dulu cari Aqua (daripada terbawa jadi ambekan).

//flee

 

Seputar Lirik.

Seorang sahabat membalas emailku seputar kiriman lirik lagu mingguan kali ini, Jakarta Ramai by Maudy Ayunda.

Begini racauannya.

Kalau ditanya, apa kabar mimpi dan anganmu? Apa kau tinggal begitu saja.

Maka jawabnya, itu yang sedang aku kejar dan perjuangkan.

Lanjut ditanya, apa arti resah ini dan apa memang itu yang ku mau?
Jangan kau tanya, aku bahkan tak tahu jawabnya..

Ketika senja datang dan bertanya, bagaimana hariku?
Aku hanya bisa membalas, begitulah… sama seperti kemarin.

Banyak orang berkata, ikuti kata hati kecilmu, ikuti apa yang ada di benakmu.
Tapi dengan lantang aku berkata,
Klise! Itu semua tidak semudah apa yang dikatakan. Aku sendiri tak tahu apa sebenarnya kata hati kecilku. Terlalu banyak ragu dan aturan untuk bertindak sesuai apa yang ada di benak.

Jadi, walaupun Jakarta ramai dan langit senja berganti abu-abu…
Tak ada yang bisa membantuku menjawab,
Apa jawaban atas tanya dari dalam diri, karena aku sendiri pun tak yakin apa yang ku inginkan…

-hasil merenung di dalam bilik toilet-

Lalu balasku di email,

Katamu, jangan kau tanya sebab aku tak tahu jawabnya..

Kataku, CARI dan nikmatilah masamu, kau akan tersenyum kelak ketika menikmati hasilnya (cie-ilah). Jangan diam berkutat!

Katamu, ketika senja datang dan bertanya, bagaimana hariku?
Aku hanya bisa membalas, begitulah… sama seperti kemarin.

Kataku, carilah PERSEPSI yg tidak sama dibanding kemarin, jadi kau tahu apa yang bisa diambil untuk bekal menghadapi hari esok.

Katamu, penuh tanya dalam diri, tak ada yang bisa membantuku menjawab.

Kataku, bantulah dirimu sendiri untuk SELALU BISA menjawab Sang Tanya.

Mau bagaimana pun caranya, Jakarta semakin ramai, jadi ramaikanlah harimu asal bukan serian drama Tersanjung.

-hasil coretan sok bijak so sweet di bilik toilet, demi kamu-

Semoga kalian yg baca agak-agak terhibur (ngarepnya) membaca ritualku dan teman-temanku di kala penat menghadapi repetan kolega dan klien penuh pancingan uji emosi bisa bikin terguncang (tapi tetap saja masih butuh digaji untuk berjuang hidup demi modal sementara). Patahan kata balas patahan kata.  Lirik balas lirik. Lemparan balas tangkapan. Lah yang satu jadi alamat galau di bilik toilet mendengarkan lagu, hahaha.

Harusnya aku jawab saja :

Jakarta Ramai..Macet..Banjir..Panas..Padat.. Selalu.

Aku sedang lapar ngga sempat galau.

Mari cari makan dulu, supaya ngga kurus seperti kamu, heits!

(mengetik banyak U di posting ini sambil mendorong pintu)

Keep the spirit darls. : 3

Have a great day!