The Immovable Detachment

As our usual meet up took place last Friday along with tasty cherry and wheat beers, I can only laugh sheepishly among the crowd while I still gawked on my little red tube called Symbicort Turbuhaler (inhaler) to use for one more month as I only followed necessary directions of what is not and what to hold on until grandpa Doctor says “All clear” after one year supervision due to tiredness condition and other immune tendency.

Nothing serious in the future unless I cross the border line into unhealthy accumulation. We just get to choose our own poison along with the healer in our life, right? Noted, doc.

jkt
small milky way called Jakarta

Anyway.. We were just detaching mind from work and picking the night even more while talking about nothing and everything for the future when priority is just a priority (dikala umur menuju kepala 3 muhaha).

Then one question popped up from my grinning face : Tell me dears..What is your most ideal images that you hardly let go from your mind?

Be it moving on from your ideal personality you ever love like a gruesome doctor, famous designer, cheating lawyer, ambitious engineer, sweet lovely writer etc.. we all have our kind of Mount Everest right at heart and mind.

And it is our choice whether to keep it too much in mind, adapt it or to just let things be, either on whatever adjective that come along as a tag-lined-profession or adjusting point of view once again to accept from the other side.

How much cloudy people could become to compensate the possibility of the future nowadays, huh? Apart from our perseverance in life, I only see that things are meant to let go when you are mentally ready, just because.

That at some point of our desires to catch what we want in life, doing it in immovable detachment results in bunches of contentment, purity, simplicity and immutability that dwells eternally in our soul (just some vocab from Meister Eckhart essay).

That of all beautiful and screwed up things, having great peeps in company while we keep saying towards each other in unconditional situation  of this ‘belantara Jakarta’ years after years such as :

“Come! Let’s go on trial errors, fall and always rise up. I’m waiting for you to put yourselves together again, ok? We are always just around.”

And isn’t it just we all need sometimes?

Some “bodo-bodo” conversations to laugh about after rough day and some deep discussions about the meaning of your life to ponder on and also to look forward having a life spouse in 3 words final category : komplemen, utuh dan sejalan.. Bersama-sama menjadi.

Cheers ~<3

.

When settling and tidying up messy messy messy messy situation in 4 medium to large enterprises cost more than your personal life, emotionally and physically, then what would you do? Perhaps, this has been on my mind for a long time albeit i already know the answer.

Ah sudah lah, setidaknya masa otak kebakaran sudah jauh terlewati. Aku sudah bernafas jauh lebih baik dari tahun lalu (literally), hari demi hari. Mataku sudah ikut tertawa lepas tatkala perasaan liar membuncah tak terkendali itu melebur bersama waktu. Seperti memutarbalikkan fakta dan fiksi. Lantas hanya tersisa padu padan suara hati yang sedang menata kembali dan melengkapi keping penebusan karma terakhirku.

Setiap keputusan 15 bulan terakhir ini dinaungi 2 suara lembut yang berhasil membuatku jinak dikala semua urusan hidup menjadi buyar, tandas seketika karena secarik kertas putih berlabuh di telapakku malam itu, membuatku terdiam beku dan merenung untuk waktu yang sangat lama setelahnya. Seorang guru dan seorang dokter lah yang menjadi penenang terbaikku, yang lucunya.. bahkan bukan keluargaku, teman terdekat atau pun orang yang diharapkan ada di sisi. Para oldie tersayang ini memang menjadi peganganku ketika sudah bertahun-tahun hidup sendiri seperti ini.

Semua terjawab pada waktunya karena menyembuhkan diri sendiri itu layaknya memekarkan hati sehalus beledu. Lapis demi lapis jiwa. Setetes demi setetes air mata.

Dan tentunya .. Kita adalah bagaimana kita mengolah semua itu. Apakah kita menjadikan luka-luka mengubah kita, ataukah kita tetap menolak kalah dan berpegang teguh pada pengharapan. Dan kembali percaya. Pada diri sendiri. Pada orang lain. Pada hidup.

Terlebih lagi, kepada Yang Di Atas. Karena hari esok memiliki kesusahannya sendiri, bukankah begitu?

Setidaknya, itu lah yg ada di pikiranku setiap kali langkah gontaiku melewati pintu masuk gedung berisi para manusia berjas putih selama setahun terakhir ini.

 

(sneak peek selesai)

Of All.

Because not everyone can handle you with care.

Because not everyone can handle the information that you give.

Because not everyone can celebrate your dream, even your closest friend.

So, take good care of your heart.

Because one person learn to love him/herself by loving others and being loved back by others, using their weirdest way..

And other fact too.. Grief changes you. Period. One of the most powerful emotions is empathy, or the ability to comprehend and embrace someone else’s current trials or jubilation at hand without putting any ignorance upon.

And a man who values time and memories over material things is priceless. A man who can understand your sorrow but also take joy in your joy is beautiful.

Manifestasi Mental

Bali

Layaknya arti judul, semua konten yg terpampang di seluruh postingan blog ini ibarat satu titik dari semesta alam sadarku atas hiruk pikuk sekitar.

Oke. Aku hanya merasa perlu menuangkan yang ini sampai ke blog karena beberapa kejadian tak enak sempat terjadi tahun ini. Tentunya tak perlu kujelaskan di sini hingga detail, cukup orang dewasa terpercaya yg faham.

Semua dimulai dari makna judul postingan, yaitu perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat. Perwujudan soal apa Vy? Bahwa semua orang itu rindu. Iya, rindu dalam berbagai bentuk, ngebet sampai penasaran juga boleh. Tapi faktanya, semua yg tampak mudah datang ke depan muka itu mudah juga perginya. Berlaku untuk semua urusan bahkan urusan prestasi sampai urusan perasaan suka menuju cinta, bahkan nafsu. What am i babbling about in this paragraph? Maintenance to balance all things, Darlings. 

Sepanjang menjalani peran part time event organizer selama masa kuliah bertahun-tahun, peneliti yg anti-sosial di laboratorium, berkarir konsultan/bisnis analis/ERP trainer dan apapun itu yang segambreng job desc-nya dari tingkat junior hingga senior saat ini, faktanya selalu berjalan seperti itu.

Easy come, easy go.

Semua berujung di satu kata kunci yaitu… miskin. Tunggu dulu! Kenapa bisa begitu?

Bukan miskin secara harafiah karena belum punya uang atau kurang ilmu. Bukan.

Aku bicara soal miskin dalam cara pikir diikuti ego.

TIDAK peduli apa profesimu dari pengangguran, anak kuliah sampai direktur sekalipun, uang dan ilmu itu bisa dicari dan dikembangkan. Uang saja bisa dipelajari bagaimana mencari dan mengolahnya asalkan mengerti business analytic dengan baik disertai pengambilan keputusan dengan kepala dingin tak dibawa emosi. Ups&down along with trial error. What about your EQ, guys?

Tapi kalau sudah bicara soal olah pikir lanjut olah rasa untuk semua jenis mengalami, itu lain soal, apalagi menangani pulih dari kepahitan hingga luka batin. Pengambilan keputusan yang keliru secara kontinu lanjut sifat kebebalan seseorang yang menumpuk biasanya berlanjut jadi miskin cara pikirnya, yang berujung menjadi tindak-tanduk keseharian.

Apathetic in immaturity. Sepintar apapun seseorang itu, IQ tinggi, rapih, bersih, berdasi sekalipun sampai yang begajulan, tetap saja akan sulit kalau cara berpikirnya itu keliru. Bahasa gaulnya, SEMAU GUE AJA EMANG GUE PIKIRIN ORANG LAIN GIMANA, HAH?!

Bicara soal apa lah aku sampai niat ngejabarin gini? Singkatnya, generosity. Murah hati.

Ada orang-orang yang lebih mudah untuk di-support karena ia tidak menggelayuti ekspektasi orang lain. Cukup dibantu dalam periode singkat lalu sudah jalan sendiri dan punya niat yg DINIATKAN, ia anti menjadi tanggungan orang. Mandiri walau diawali kesulitan ini itu.

Lain lagi ketika orang yg dibantu itu ada dalam keadaan isi pikirannya masih miskin (bukan miskin pengetahuan loh ya, BEDA). Seperti apa pun dibantu sampai jungkir balik, ia akan memposisikan dirinya selalu menjadi tanggungan, menggelayuti lanjut menggerogoti sampai habis dan membelenggu orang yg bermaksud menolong.

Itu yg judulnya jebakan batman di kamusku HAHAHA sebentar lagi aku buatkan bom wildfire juga lah ini sekalian untuk dikirim, shock therapy itu kadang-kadang metode yg kupakai sambil bertampang polos…. (tepok jidat elus-elus dada aja deh). Istilah gaya lainnya di Greek Myth : Tragic Hero. Tapi bukan itu juga!!

Celetukan lain berkata ,”Kurang iman itu, Vy..”

Ah, bukan itu juga jawabannya! Klise! Iman setiap orang selalu unik, bahkan orang yg selalu curhat padaku tidak percaya Tuhan pun butuh sejumlah iman yang  sangat besar utk percaya ketiadaan Yang Maha Kuasa. Aku sudah kekenyangan bahasan dan perdebatan filosofi demi membuka belenggu pikiran dari Ayahku sejak kecil. Bukan itu kawan!!

Menghadapi manifestasi mental miskin lebih tepatnya! Mental itu yg akan menjadikan seseorang jadi benar-benar miskin, in literal and figurative way, walaupun tampak luarnya itu ya…… murni anak konglomerat.

Lebih baik menjadi orang yg sedang bekerja dan belum punya banyak uang saja dengan mental yg kaya, karena kualitas itu lah  yg akan menjadikanmu kaya luar dalam pada waktu-Nya dan sesuai jalan-Nya.

Dan aku percaya setiap kamu-kamu yg sedang baca laman ini bukan orang bermental pikir miskin seperti gerombolan penikmat fasilitas tok yg ada banyak di luaran sana.

Meski puja bisa saja melangit, jangan biarkan jiwamu berdiri menginjak matahari. Tetaplah membumi, OK guys?

Keep your generosity in all you do no matter how some immature people can s*cks at times due to their own blindness at heart and mind.

Have a good day beautiful souls.

70.

A Change

A change maybe just around the corner!

After hard months, perhaps some changes are good.

And I’m hitting number 70 in my blog post! Gak istimewa sih, tau.. (* – -) Just a very tiny form of excitement for lucky number 7 at the seventh month of the year.

I started putting out words by words in this blog since 2012 (my second year after moving out from my home, Bandung, to this Ibukota sumpek nan pengap, Jakarta). Wohoo. Five and a half year following my heart (or should i say : following my bitterness-after-effect in college years until now? Starting over and over and over, shoo shoo old heartbreak, udah basiiiii busukkkkk, tahun berapa iniiiiii, kaca mana kaca).

pic 1

I must say that I love my life better in this city (kecuali urusan macet dan overwork condition). Dan pada titik tertentu, aku mencinta lebih baik dengan jarak dari berbagai segi. Emotional closeness obstacle i must say. (´c_,`lll)

I should thank dozens of people for all inspirations in here, there and everywhere. Four blog post are still remaining in draft for months and another three in trash.

pic 5

Even though current obstacles still push me down to be half-hearted person as ever but the process is still going on, i think that’s OK. Valuing process in order to progress. Why not? Just another kind of small trial to enlarge mental capacity.

pic 2pic 6

After making a lot of dots in my head based on people stories and receiving enough feedback in live version, I must say that I am currently happy & satisfied enough to do this mix and match method for the next 6 months of mind framing. I will be owing to create a longer version just for two dearest darlings, Karlin & Dwiasfitri. Connecting the red threads, perhaps.

Another deep thanks to most expressive daily life companions : Adit, Hari, Malik, Purnama, Hermawan, Lubis, Cahyadi, Rosy, Kevin, The Wolf Blogger, Mr. Taxi Drivers who never cease to entertain me when i got stuck in traffic and many many many other inspiring people including 22 other countries flags that keep popping up in my wordpress app. 🙂

I shouldn’t describe what kind of country i am living or even to compare it with others, should I?

pic 3

Oh one more..Thank you to Beruang Australia too. You are such a good senior analyst and also “a good career therapist” across the continent.

Well.. I will still adore all of you no matter what even though all of your gold comes along with the rust. So that maybe, we just find heaven in a hell of a place when we got lost.

Dan yang tak akan pernah lupa…. Romo Gondrong Gereja Santa untuk kuliah filsafat dalam setiap kotbahnya yang ajaib.

_____m(◕‿‿◕。)m_____ (posisi muka nangkring saat ikut ibadah beberapa minggu sekali–> ngaku)

Next, since this is just my random writing to express things.. I’m showing my 2016-to-do-list, just one plan after another in here (been following one suggestion over here).

  1. Taking my parents to Bali annually, done.
  2. Finishing career woman stressful period, done. (senggol bacok period uda off, aku sudah kembali jadi anjing shiba/pom-pom… mungkin)
  3. Re-calculating my fucked-up-almost-broke-due-to-high-stress financial statement, on progress.
  4. Targeting financial freedom at the age of 30, on progress.
  5. Completing Microsoft Certification, soon. (ujian ujian ujian ujian ujian ujian….)
  6. Making Indomie instant noodle for room mate at 10.30 PM, done. (nom nom nom nom)
  7. Moving in to new rent place, soon. (Oh God, i need to breathe fresher air when i sleep!)
  8. Finishing two personal projects, soon. (Biar smooth itu emang butuh proses ya, panjang pula)
  9. Making short video for my-childhood-ngebet-friend, soon. (=,=)
  10. Making dreamy-plastic-culture project into reality, soon, perhaps. (Hello again Polymer!  Why do i need so much money for you beforehand hmm…<3)
  11. Going to my immunologist for my last check up after one year supervision, soon. (Hello life balance, hello lagi untuk bisa menabung, yeay)

last but not the least is… the most difficult thing in my life ..

12. Tidying up piles of bookssssss in my room, soon.

Due to some personal projects, I will be off for quite a long time and will be just posting some favorite pictures. And for all the things i’m loyal to is just being loyal to growth along with dearest growing peeps. Cheers to you beautiful souls!

pic 4
Dusk is just an illusion, because the sun is either above the horizon or below it.

 

 

What Hurt is What Matters, anyone?

Best moment of the year : Sweet beer under the sunset while the moon was arising at Seminyak, Bali.

Overwhelmed by the details until the tears dried out and everything get numb then it regrow again from within.

Perhaps, this has been a long topic with some of my close people who is “warm” to understand things when it actually gets heavier in each of our diverse challenges and problems. Taking notes for myself in this matter while saying “this too shall pass”… Setidaknya ketika hati sudah tidak diremas-remas lagi dan mata sudah kering.

Apart from many kinds of people around you who take different life paths whether getting too focused and get “too heavy” for the past you cannot let go or still having small mind capacity to understand how to widen horizons of action, you may need some help to get yourself untangled & gain new perspective.

As in this case, biggest shame on those who only know how to drag each other down and getting busy on proving right or wrong, making people feel bad even more. Acting like a brave one but a coward inside.

Karena ego yang terlalu besar tidak akan membawamu kemana pun untuk berkembang.

Lebih sia-sia lagi untuk mencelikan mata yang sudah menolak untuk melihat dan telinga yang tidak kunjung belajar mendengar untuk mengerti.

I should insert this on some people’s head, perhaps just in my imagination.

Talking is easy whether it is right or not, but to prove it within yourself, that is the most difficult part. Too many justification in your head is also a hindrance. Whatever somebody may say about themselves, it can be right and it can be wrong depend on point of view and particular situation. What’s the important thing is how to make it real in life with action. Out of your comfort zone.

It is okay if your breath gets short. Breathe in deeply until both of your chest get numb and  exhale more since everyone take their happiness differently, along with their own kind of pain and healed bitterness.

And for this sake, people who are ready to grow together with you, are the best people in the whole world.

Untuk semua yang dijalani bersama… cheers for the same continued growth darlings.

Cheers even more to all cauterized things and to future possibilities.

Ingatan Setangkai

3422097850_970c50e534

“To bear the fruits against all odds, my dear Evy.”

Begitulah makna kalimat itu terngiang di kepalaku ketika seorang sahabat datang saat dibutuhkan, tanpa diminta. Apalah artinya itu dikala emotional fatigue bertandang kembali di tengah kejengahan ibukota ini dan siapa sangka si bayangan itu kembali hanya untuk singgah tersenyum. Tak diundang. Tak dinyana.

Benarlah adanya kalau orang yang memegang kunci kesembuhan terdalam itu … ya hanya si pembuat, dalam keteduhan matanya. Tak lain dan tak bukan, si rosaceae yang tersimpan rapi di lubuk hati.

Telah lama ter-peram tanpa sadar, bukan di-peram dengan sengaja. Ia melenggang ringan sebesar keberadaannya di tengah canda tawa pesta pernikahan seorang sahabat Februari lalu. Sudah sewindu lamanya saat setangkai itu singgah kembali dalam kelegaan tiada tara tak terperikan waktu silam.

Hidup adalah bentuk cinta yang paling liar, dalam segala bentuk asa-nya dari berbagai macam penjuru. Sebesar dan sekecil apa pun itu.

Ia meresap ke dalam akar dan melunakkan duri ketika bersinggungan dalam senyum si damai untuk kembali ke asal muasalnya, batin.

Bisa jadi kata-kata terpampang di jalanan Bandung itu boleh juga dikutip seperti adanya.

Bukan demi reset, tapi hanya check up di tengah ketidaksengajaan semesta kalau semua memang baik adanya sepahit apa pun itu rasanya dulu. Walaupun sayangnya malah terbawa ke kepingan selanjutnya. Basah hati karma pun terbakar (halah).

Mungkin ini yg namanya berdamai dengan wujud “kau yang panas di keningkau yang dingin untuk dikenang”…Tak lebih dan tak kurang. Dinyatakan kembali atau tidak, sebegitunyalah adanya menjadi tuntas dan penuh kembali.

Ah… Iya, persis yang itu Mr. Rose. Terima kasih ya, sahutku tenang dalam hati.

My precious key is back, at least. 🙂

Not even an arrogant and immature lockpicker can re-create it but myself, getting healed by the hand of its previous borrower. Just to stay as it is, right and just in my palm.

Fully intact and not yet to be touched more further by anyone.

Just getting warmer in my late twenties, winter in my heart finally has passed.

Aku menyambut kembali kedatangan musim di seantero keinginan beserta keengganan yang mungkin dan tidak mungkin selesai melewati berbagai perkara.

Karena mampu menyayangi dan disayangi dikala langitmu runtuh itu menentramkan, menyenangkan hati. Entah apa pun definisi runtuhnya itu, tak butuh banyak premature statement yang sengaja dikeluarkan secara personal hanya untuk di-twist di depan khalayak pendengar picisan. Bukan kata-kata pre-agreement karena urusan cinta itu bukan seperti negosiasi bisnis.

Disanalah kedewasaan seseorang itu diuji bersama cinta kasihnya.

Ia diuji untuk bisa menumbuhkembangkan.

Sebuah anugerah yang tidak hilang timbul tenggelam seperti ombak yang pupus harapannya tapi tulus manis dan sederhana. Itu saja… cukup.

Terkenang di bilik jantung, selalu.

Rose-by-aqsahu-Flickr

Priceless as it is. In aeternum.

[OK, ternyata masih banyak yg harus dipelajari. Postingan random isi hati dalam rangka sok puitis dengan penutup one shot banyak kiasan & tanpa fix red thread, selesai sampai di sini ya darls.. :p]